Minggu, 23 Agustus 2009
Ku awali dgn biasa, hari yang spesial bagi salah satu sobatku yang berulang tahun.
Seperti adat biasanya, ipar temanku, Tica, mengajakku untuk makan siang dan aku mengiyakan. Kami setuju untuk makan siang di Soto Simbok dekat ring road. Kami pun meluncurkan motor dengan semangat juang tinggi bak tahun 1945. Setelah sampai, kamipun makan dengan lahap bagaikan habis kena bencana kelaparan (berlebihan bgt seh….). Selesai makan kami meluncur pulang.
Ditengah perjalanan pulang terjadi hal yang tidak diinginkan. Ternyata ban motor kempes… asem tenan… habis makan disuruh dorong motor… soto yg masuk ke perut bagai ga ada guna lagi wkwkwk…. tapi apa daya, mungkin sudah suratan takdir hehe… akhirnya kami menemukan tambal ban, berhentilah kami di situ dengan terengah-engah…
Sambil menunggu mas tambal ban menyelesaikan pekerjaannya, aku mencari koran untuk bacaan. Sambil mencari-cari… mataku tertambat pada sebuah foto. Ternyata foto itu milik Henny salah satu kawanku. Aku memutuskan untuk membawa foto itu untuk kukembalikan pada Henny kawanku.
Mas tambal ban pun menyelesaikan pekerjaannya dengan baik hingga kami bisa pulang dengan selamat, sentosa. Singkat cerita, aku berhasil mengembalikan foto itu dengan sukses pada orang yang tepat dan aku pun diinterogasi perihal penemuan foto tersebut (ini jg berlebihan).
Setelah proses interogasi selesai. Aku mampir ke tempat Anne yang kamarnya bersebelahan dengan kamar Henny. Aku pun ngobrol bertiga ngalor-ngidul sambil menikmati kue dan kopi yg dihidangkan Henny, hmmm…. nikmat euy… thanks Henny….
Pada hari itu ternyata Henny berencana untuk pergi ke Ganjuran, tapi dia ga ada teman. Ehh… Si Anne kok malah merekomendasikan aku untuk menemani Henny pergi ke Ganjuran. Sebenarnya aku agak malas, tapi setelah kupikir-pikir… ga ada salahnya aku pergi, toh aku juga sudah lama ga pergi ke Ganjuran.
Ternyata hari itu ada ekaristi peresmian Gereja Ganjuran yg telah selesai dibangun kembali akibat gempa.
Di tempat itu aku menyadari bahwa ternyata aku merindukan suasana seperti pada saat itu, ketika musik gamelan yg meriah memecah suasana, kulihat bangunan gereja dengan gaya joglo jawa berukir, warna merah, hijau, kuning, putih yg disusun untuk menghias seantero bangunan gereja tersebut. Aku benar-benar merindukan suasana itu. Aku pun terkesima ketika Pastor membicarakan soal perutusan disela-sela khotbahnya.
Aku benar-benar tidak menyangka bahwa hari itu benar-benar berarti bagiku. Ditempat itu Bapa menguatkan aku untuk terus mencari sebuah perutusan dariNya melalui banyak perantara antara lain: Tica, Mas tambal ban, Anne serta Henny yg ngajakin aku pergi ke Ganjuran dan mungkin masih ada orang lain yg belum kusadari. Dan aku pun memutuskan untuk semakin mencari perutusan Bapa bagiku.
Hari itu aku merasakan peristiwa yang saling terkait antara satu dengan yang lain yang mengantarkan aku pada sebuah penguatan. Aku sama sekali tidak berharap apapun selain melanjutkan hidup pada hari itu. Tapi Bapa mempunyai rencana bagiku.
Ban motor yang kempes ternyata membawaku pada foto Henny yang pada akhirnya dia mengajakku untuk memperoleh penguatan di Gereja Ganjuran. Aku sangat berterimakasih kepada Tica sampai dengan Henny atas kepercayaannya kepadaku. Mungkin bagi kalian itu suatu hal yang biasa, tapi bagiku, hari itu sungguh luar biasa.
Terima kasih untuk Tica yg telah ngajakin aku makan, dan aku sangat bersyukur dengan kempesnya ban motor. Aku serius.
Terima kasih untuk mas tambal ban yg telah menyimpan foto Henny yg tertinggal, sehingga aku bisa mengembalikannya.
Terima kasih Anne karena merekomendasikan aku untuk menemani niat Henny yg begitu kuat. Harusnya kamu ikut hehe….
Terima kasih Henny untuk kopi, kue dan terutama adalah ajakanmu sekaligus kepercayaanmu. Hari itu menghasilkan arti yang besar bagi imanku.
Dan yang utama, terima kasih Bapa atas para perantaraMu, terima kasih atas hari itu. Amin.
NB: maaf klo ada perkataan yang kurang berkenan.